Showing posts with label Mujahid Kecil. Show all posts
Showing posts with label Mujahid Kecil. Show all posts

Saturday, June 29, 2013

Duo Krucil Sehat dan Cerdas

Mempunyai dua anak laki yang beranjak besar memang seru. Selain membutuhkan semakin banyak asupan gizi yang baik, juga ruang gerak yang lebih memadai. Bukan lagi sebatas ruang keluarga untuk bermain puzzle, tetapi ke lapangan bola dan berlarian lebih jauh lagi.

Makanya, jadi ingin napak tilas rekaman ingatan tentang mereka berdua, yaitu abang Umar dan adek Salman. Sejak mereka mulai belajar merangkak, gak ada tuh yang namanya pembatasan ruang gerak. Hajar bleh! Semuanya! Dapur, teras, sampai ke lapangan voli di RT tempat kami tinggal di Depok dulu. Seru banget! Yaaa, pastinya ada nada-nada sumbang yang mengatakan saya terlalu nekat membebaskan anak-anak bermain. Lho? Mereka kan sedang dalam tahap belajar juga. Jelas aja mereka akan 'gila-gilaan' dalam bermain. Sejauh mata mereka memandang kan dunia itu terasa mencengangkan. Iya, kalau kita yang melihatnya sekarang sih mungkin lucu dan cenderung norak. Iiiihh... Aneh ya? Kita lupa kalau kita pernah melewati tahap itu. Hehehehe...

Perlahan, mereka tumbuh besar. Ocehan mereka mulai beragam. Banyak bertanya dan banyak maunya. Mulai bisa protes dan punya pilihan sendiri. "Gak mau yang itu! Ini aja lebih keren!" "Gak seru nonton itu, Bun! Kalau yang ini pasti rame banget!" "Aduh, Bunda kuno! Ini asik lho!" Eeeeerrrgggghhh.... Gitu ya? Hihihi.... Baiklah, tampaknya memang sikap kritis itu menurun dari saya. Terkadang saya kedodoran dan kewalahan untuk menjawab semua pertanyaan mereka. "Kenapa juga kita harus makan. Aku gak laper, Bun!" protes Umar ketika saya memintanya untuk sarapan. Yes, salah satu perjuangan adalah membujuk rayu keduanya sarapan! Fyuuuuuuhhh.....

Punya dua anak yang sangat cerdas di atas rata-rata dengan perilaku yang santun pastinya membanggakan :) Kadang sih memang mereka membuat rusuh dengan temper tantrumnya. Itu dulu. Sekarang, beranjak besar, sudah paham kalau hal semacam itu tidak baik :)

Bagaimana saya, Ibu yang setiap hari melihat tumbuh kembang mereka ini, dapat memberikan yang terbaik untuk keduanya? Mudah. Tapi juga sulit. Keduanya saya dapatkan di waktu yang bersamaan. Mudahnya, karena mereka suka dengan lingkungan baru, seasing apa pun itu. Mereka tipe adventurer and survivor. Bahkan, lebih kuat dari saya sendiri. Sulitnya, si bungsu adalah tipe pemilih dalam makanan. Jika abangnya adalah tipe pemakan segala alias sayuran oke, daging oke, lauk oke. Serba oke.

Nah, untuk menambah kebaikan yang sudah ada dalam setiap asupan makanan dan minuman mereka, tentu saja sebaiknya aku berikan juga dong suplemen yang dipercaya? Khusus untuk abang Umar, aku berikan Cerebrovit Excel agar maksimal penyerapan vitamin dan mineralnya :) Keliatan dia bisa lebih fokus dalam belajar dan cepat menyerap materi yang dipelajari. Oia, Umar adalah seorang homeschooler, jadi sementara ini emang gak ada jadwal khusus untuk belajar apa dan pukul berapa. Senyamannya dia aja sih.

Terbukti, Umar tetap bisa bersosialisasi dengan baik dan menunjukkan prestasi yang cukup menggembirakan. Ketika ada tetangga yang bertanya apa resepnya sampai Umar bisa demikian, saya menjawab cukup dengan tiga macam : makanan & minuman untuk fisik dan psikis terbaik dan Cerebrovit Excel dong! ;)

Eh, ikutan juga dong saya follow Twitter dan like Facebook Page Cerebrovit Excel lho! Kenapa? Supaya bisa tau apa sih yang jadi trend remaja pintar dan gaul saat ini ^_^ Harus jadi emak gaul dong!

Sekarang dan untuk masa yang akan datang, tak ada yang lebih menenangkan hati saya kecuali Umar dan Salman tumbuh sehat dan cerdas.

Sunday, April 07, 2013

Berani Kotor Itu Cerdas

Seru, lucu, sedih, tertawa, geregetan, terharu, dan entah perasaan apa lagi ketika membaca bukunya mbak Fira Basuki yang berjudul "Cerita di Balik Noda." Kisah-kisah inspiratif di dalamnya menggugah naluri dan membuka pikiran. Tentu saja, mempelajari hal -hal baru biasanya dimulai dari hal yang kotor.

Foto dari SINI

Berani kotor untuk menjelajah dunia baru? Saya suka kisah tentang "Bos Galak".  Terkadang diperlukan tindakan berani untuk menyentuh hati seseorang. Pastinya, berani untuk 'mengotori' suasana tegang menjadi enak, seenak kuenya. :)

Atau "Tulisan di Kain Sprei" ini juga menarik. Saya jadi ingat ketika kecil, bertubuh gemuk dan selalu diledek dengan kata-kata "Gajah Mada" "Si Gendut" "Si Bapuk" dan entah apa lagi. Minder? Iya! Dan bagaimana Chatya menyelesaikan rasa mindernya keren banget :) Dia berhasil mengalahkan perang batinnya dan keberaniannya untuk berbuat sesuatu meski harus kotor sangat saya suka.

Kisah "Siluman Tikus" sempat membuat saya mengerenyitkan kening. Lho? Kenapa ya? Ada apa? Kemudian ketika saya membacanya, ah, tak terasa justru membuat saya menangis. Kita memang kerap menuduh dan menilai orang tanpa pernah memberanikan diri untuk sekadar bertanya mengapa. Pikiran buruk justru hanya akan berakhir tak enak. Beruntung Ali menyelamatkan semua praduga hanya dengan bekal berani kotor. Benar-benar seperti drama!

Yuni dalam kisah "Tak Jadi" benar-benar menjadi penyelamat pernikahan kedua orangtuanya yang sudah telanjur emosi. Cemburu menjadikan seseorang gelap mata. Kekhilafan pun harus dibarengi dengan tindakan nyata untuk berubah.Yuni langsung nyebur mencari cincin kawin dan tak peduli kotor itu yang akhirnya menyelamatkan keluarga.

Bakat Nisa menjadi "Koki Cilik" sudah difasilitasi dengan tepat oleh Ibunya. berani kotor di dapur? Pastinya seru dan menghasilkan makanan enak, ya? Baca kisah ini membuat saya ngiler. Belajar masak dan bisnis dari kecil? Seru banget deh pastinya!

Di antara banyak kisah dalam buku ini, ada satu yang mengusik perhatian saya, yaitu dalam kisah "Harta Sebenarnya" ketika di akhir cerita, sang Kakek berkata, "Kalian tertipu, sandal Kakek tidak tertinggal di lumpur." Ini pemilihan kata yang kurang sesuai, menurut saya, meski nilai hikmahnya bagus sekali.

"Batik Kreasi Ivan" membuat saya terperangah. Banyak ide brilian muncul tanpa pernah bisa kita duga. Pola batik dari tanah yang kotor dan memenangkan perlombaan? Sungguh, hal sederhana seperti ini yang jarang sekali terpikirkan mampu memberi inspirasi bagi orang lain.

"Kaki (Harus) Kotor" membuat saya tersenyum. Terlalu protektif terhadap anak memang tak selamanya baik, ya? Jika hingga usia 2 tahun belum bisa berjalan hanya karena takut kakinya kotor, tentu menyebabkan Nur menjadi terlambat berkembang. Untunglah sang Nenek justru membuat Nur kotor dan hasilnya Nur bisa belajar berjalan! Kisahnya manis :)

Kehidupan yang serba sulit dan keras menjadikan Acon seorang "Penangkap Ikan Cupang" yang belajar tangguh sejak kecil. Tidak peduli apa kata orang dan kadang dimarahi justru malah berani kotor demi bisa membantu meringankan beban Ibunya. Ah, lagi-lagi saya terharu. :')

"Agi Tidak Pelit". Ya, anak lelaki yang yang senang berhemat itu sebenarnya anak yang baik dan justru memiliki tingkat kepedulian sosial yang tinggi. Siapa yang tak bangga memiliki anak seperti Agi?

Jika "Demi Sekantong Beras", Radya mau dan berani kotor bersama temannya Adi, pastilah karena sifat dermawan dan berjiwa sosial tinggi yang dimilikinya. Belajar berjualan dengan berusaha semaksimal mungkin memberi kepuasan batin tersendiri, ya?

Aaaaahh... Masih banyak cerita seru dan indah dalam buku ini! Gak bakalan nyesel bacanya dan yang pasti, bisa mengubah sudut pandang kita tentang sesuatu yang kotor. Menarik. Jadi, buku Cerita di Balik Noda dan Berani Kotor Itu Baik sungguh menginspirasi. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah menemukan apa yang menggugah hari ini? Cek juga yuk di sini, apa yang bisa Anda temukan di sana!

Sudah ya, saya mau bermain hujan bersama kedua anak saya sambil menemani mereka bermain tanah. Imajinasi mereka berkembang saat berada di halaman yang diguyur hujan deras. Setelah itu, segelas teh hangat akan membuat kami nyaman. Yuk, ah!

Monday, February 11, 2008

Long Weekend 7-10 Feb 08

Gak ada apa2! All day at home with Umar. Soalnya hujan, mau kemana coba? Paling aku tulis2 draft untuk buku perdana (cieee....) dan selebihnya main sama Umar. Bahagia sekali bisa main sepuasnya, sampai2 aku kaget kosa kata dia sudah banyak dan aku bengong. Ih, Umar pintar!!!

Tapiiii.... begitu masuk kerja??? Haiyah!!! Kerjaan apa kejar setoran tuh???

Udah ah, kerja dulu!

Thursday, January 17, 2008

Senandung Lirih Cintaku

Ketika malam beranjak larut dan hembusan nafasmu menggelitik jiwaku
Mata terpejam dengan senyum manis berbingkai cinta menyapaku
Dalam tidurmu, aku 'kan hadir membawa sejuta warna seluas cakrawala

Angin membawa wangi surga hingga bisa kucium dari jauh. Surga duniaku yang semesta....
Engkau hadir dengan segenap jiwaku dan melengkapi kehampaan yang nyaris tanpa makna
Bisik lembut menyapaku setiap detik dalam perjalananku
Meski tanpa hadirmu, kurasa kerinduan menggelayut di pundak kita

Aku tak pernah meminta balasmu karena memang tak perlu
Aku akan memberi sebanyak kumampu
Aku akan memohon pada awan untuk menaungi setiap langkahmu

Kutitipkan padaNya mataku agar Dia menjagamu... Selalu

Mujahid Kecilku, teruslah bernyanyi dan menari...

Dengan segenap cinta Bunda

=====
from Teh Rien 4 Mujahid Kecil and me:
...swearing that we'll never ever part...

...I over what u cannot buy...

...devoted love until we die...

Friday, December 07, 2007

It's Your B'day!

HAPPY MILAD, MUJAHID!!!

Hari ini, tepat 2 tahun yang lalu pukul 02.24 WIB, ketika hujan rintik2 membasahi bumi...
Tangis pertamamu pecah membelah kesunyian dini hari.
Segera ayahanda membisikkan adzan dan iqomat dengan harapan kalimatuLlah itu yang kau dengar pertama kali.

Dengan penuh rasa syukur, teriring doa dan harapan yang membuncah...
Kami namai engkau

UMAR RIZQI MUSTHAFA

Yaa mujahid kecil...
Dengan nama yang sama dengan salah seorang sahabat terbaik Rasul, kami berharap engkau kelak meneladani sayyidina Umar ra.
Engkau adalah hadiah terindah dari Sang Pemberi Hidup, semoga rezeki mengalir penuh berkah padamu.
Bukan tanpa maksud dan tanpa rencana, Sang Pencinta memilihkan bunda dan bapak sebagai orangtuamu dan menjadikanmu anak yang terpilih untuk kami.

Semoga kelak, dengan bimbingan kami, orang2 yang mencintai dan mengasihimu, engkau akan menjadi manusia tangguh, cerdas, berakhlak mulia, dan berguna bagi dien dan masyarakat.

Ingatlah selalu, Nak:
1. Hanya Allah swt. tujuanmu
2. Hanya Rasulullah saw. tauladanmu
3. Hanya al-Quran pedomanmu
4. Hanya jihad jalan hidupmu
5. Hanya kesyahidan cita-citamu

Teruslah tumbuh dan berkembang... Jalan di depan tak selamanya mulus. Rintangan akan selalu menyapamu. Godaan mengintaimu setiap saat. Namun yakinlah, bunda dan bapak akan selalu menyertai setiap langkahmu... Insya Allah...

Thursday, October 25, 2007

Sukses Menyapih

Akibat dari tragedi keracunan itu, ternyata ada satu lagi yang patut dirayakan... Umar berhenti menyusu alias berhasil disapih!

Phewh, akhirnyaaaa.....

Awalnya bingung, gimana cara menyapih Umar? Banyak yang bilang, dioles balsem, obat merah, sampe jamu2an pahit. Walah, itu sih lewat...Umar anak cerdas. Gak bisa dibohongin begitu ajah....Lagipula, Umar terbiasa minum rebusan kunyit, jahe, dan kencur. Heheheh... mana mempan pake yang pait2?

Sakitnya bunda tersayang, dan juga sempat tertular via ASI, menyebabkan Umar tak lagi "memaksaku" untuk ngelonin dia bobo dengan menyusuinya. Cukup bilang, "Mbu, cucu!" (terjemahan: "Bunda, susu Ultra dong!") Gituh! Mau rasa apa? Coklat, stroberi, vanila, madu? Apa ajah! Dengan riang, Umar minum susu, dan sejenak kemudian terlelap...

Aiiiihhhhh.... Terima kasih ya Allah....

Thursday, October 18, 2007

Tak Akan Terulang

Aku tuh ibu yang gublokkkkk... kali ya? Masa sih gak ngeh? Masa sih gak nyadar? Masa sih gak maen firasatnya? Lihat kan akibat seenak jidat maksain ego sendiri? Lihat akibatnya sama Umar!!!

Sejak tragedi lebaran itu, Umar sedikit berubah. Dia menjadi lebih pendiam dan berhati2. Tatapan penuh ragu, curiga, dan trauma sangat jelas terbaca. Pelukannya semakin erat. Bapaknya laporan, kemarin sore Umar nangis di pojokan manggil2 aku. He needs me!

Sungguh, intuisiku sebagai seorang ibu lagi mati atau emang gak dinyalain? Ya Allah, hanya karena ingin memaksakan acara silaturrahim, anakku jadi begini? Emangnya gak ada momen lain untuk kumpul2? Rasanya gak ada.... Keluarga besar kami hanya berkumpul jika ada yang menikah atau meninggal. Lebaran ngumpul? syukur2 kalo bisa...

Adakah yang salah dalam diriku? Atau pola asuhku? (Menunduk, menangis, dan menghela nafas berat)

Wednesday, October 17, 2007

Tragedi Lebaran

Astaghfirullah! Baru saja merayakan hari kemenangan, kok sudah ada berita sedih?

Iya, ini menyangkut Umar si calon mujahid...

Begini:

Hari Lebaran kedua, tanggal 14 Oktober 2007, tepatnya hari Ahad. Kami sekeluarga berkunjung ke rumah baru Ua Wiwin di Bekasi. Rumah yang nyaman, luas, dan enak dipandang. Meski tau sendiri kan kalo punya rumah di Bekasi???? Sedia kipas angin atau AC! Aku melihat ke balkon atas, wah bisa lihat jalan. Tetapi sesaat kemudia, perasaan takut dan ngeri membuatku merinding. Singkat cerita aku bertanya pada teh Ami sang sahibul bait. Ternyata rumah itu memang milik temannya yang dihibahkan (subhanallah!) pada teh Ami dan full furnished! Waw! Seketika aku berdecak kagum, namun sedetik kemudian aku meringis. Jangan2 ini rumah pernah kosong lama...

Ashar yang terik mengantar kami sekeluarga ke rute selanjutnya. Jatiwaringin. Rumah eyang kakungnya Umar alias almarhum bapakku. Sekarang yang nempatin mbak Emmy dan anak2. Tak ada yang istimewa kecuali angpao untuk Umar. Hehehehe...

Pulang dari Jatiwaringin sudah lewat 7.30 malam. Dalam perjalanan pulang itulah, keanehan mulai muncul...

Umar terlihat sangat gelisah. Sorot matanya tampak ketakutan. Sesekali ia menangis dan berteriak ,"Atut, mbu....Atut...Aduuuhhh..." Lho, Umar takut kenapa? Kan ada Bunda dan Bapak? Umar semakin gelisah. Kami sebagai orang tua yang juga kelelahan dalam keadaan bingung tambah kesal dengan ulah sopir angkot yang sok jago tapi belagak miskin dengan minta extra. Sebel!

Malam itu Umar tidur sangat gelisah. Ia selalu memelukku erat sambil menangis ketakutan. Begitu pula esoknya. Lalu esoknya. Kami tak tahan melihat tingkah aneh Umar yang menyedihkan. Kami jelas bingung. Salawat Rasul, ayat Kursi, al-Ma'tsurat... Apa lagi?
Jelang tengah malam, suamiku menelepon Engku Sie Guan -pamannya- yang (waullahu'alam) diberi kelebihan indera keenam. Bapaknya Umar belum berkata apapun, engku sudah tau.

"Umar diikutin sama yang nungguin rumah di Bekasi." Jderrr.....Astaghfirullah! Apa iya?? Itukah makna tangisan minta tolongnya? Permohonan perlindungannya? Seketika itu aku langsung memanggil adikku untuk datang dan meru'yah Umar. Perlahan... Umar mulai bisa tertidur dengan tenang. Meski sesekali masih bangun karena trauma.

Pagi hari ini, aku melihat senyum Umar mengembang dan wajahnya tampak tenang. Alhamdulillah... Terima kasih ya Allah. Aku bisa berangkat ke kantor dengan hati yang lapang.

Bunda rindu senyummu, Nak....

Monday, October 08, 2007

Senyum Matahari

Melihat wajahmu, Nak...
Bunda merasa damai dan tenteram

Mendengar tawamu, Nak...
Bunda tak kesepian dalam kesendirian

Merasakan pelukmu, Nak...
Bunda balas tak takkan pernah melepasmu

Bila Allah mengijinkan, Nak...
Bunda ingin melihat dan menemanimu tumbuh berkembang hingga kau kelak mampu mandiri

Monday, April 10, 2006

Untuk Calon Mujahid

Assalamu'alaikum,
Kepada calon mujahid bunda tersayang

Kuberi engkau nama Umar Rizqi Musthafa
Kuharap engkau 'kan teladani Sayyidina Umar ra.
Mampu membela yang haq dan memerangi yang bathil
Ringan tangan membantu kaum papa
Bijaksana dalam memecahkan masalah
Sayangi yang muda dan hormati yang tua

Kelak kau akan berhadapan dengan zaman yang tak lagi bersahabat
Tugasmu berjuang di jalan Allah
Hari ini bunda membantumu ke arah jalan Rasulullah, insya Allah
Hingga kelak kau mampu berjalan dengan gagah membela dien Islam

Allahuakbar!

Wassaslamu'alaikum

Peluk cium bunda untukmu

depok,April 10,2006