Friday, November 16, 2007

Renungan Jumat

1.UTANG PIUTANG


Oleh Sigit Indriyono

(disadur dari http://eramuslim.com)

Kubuka kenangan masa lalu beberapa tahun berselang, yaitu suka-duka sebagai anak kos di kota Bandung. Gembira dirasakan saat kiriman uang dari orang tua telah sampai. Kebanyakan orangtua menggunakan sarana wesel pos atau transfer lewat bank untuk mengirim uang kepada anaknya. Kiriman uang baru bisa diterima beberapa hari setelah dilakukan pengiriman. Belum ada jaringan bank yang on line, ataupun wesel pos elektronik. Saat ini, dengan memanfaatkan teknologi informasi, kiriman uang bisa diterima dalam hitungan detik, dan pengambilannya bisa dilakukan setiap saat di ATM.

Keterlambatan kiriman uang dari orangtua akan menimbulkan masalah. Anggaran pengeluaran telah telah dibuat untuk memenuhi berbagai kewajiban sebagai mahasiswa. Tagihan uang kos dari induk semang terbayang di pelupuk mata. Belum lagi biaya hidup sehari-hari yang harus dikeluarkan. Untuk ongkos kendaraan umum dari tempat kos ke kampus pergi-pulang dan makan siang di kantin kampus. Belum lagi biaya untuk pembayaran uang praktikum. Atau untuk pembelian diktat dan buku teks kuliah. Kondisi demikian akan menyadarkan kita, sungguh besar pengorbanan orangtua mencari nafkah untuk keperluan keluarga. Sehingga, selayaknya bakti dan hormat kepada orangtua menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan. ''Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orangtua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orangtua. '' (HR Hakim).

Kita butuh uang untuk pembayaran suatu keperluan yang penting dan sangat mendesak tetapi uang di tangan tidak mencukupi seperti kondisi di atas. Solusi yang bisa dilakukan adalah berutang kepada orang lain yang mempunyai kelebihan. Saling tolong menolong dalam bentuk perjanjian utang-piutang merupakan perwujudan hablum minannas. Utang-piutang harus dibuat secara tertulis sesuai perintah Allah SWT (QS Al-Baqarah[2]:282).

Aku terkenang saat masih duduk di bangku SMP di kota Malang. Pak Harno penjaga sekolah membuka warung di halaman sekolah. Macam-macam makanan dan minuman dijual di warungnya, dibantu oleh sang isteri. Mereka berdua dengan penuh keramahan melayani para siswa. Saat istirahat sekolah, warung yang rapi dan bersih itu ramai oleh para siswa, terlebih setelah pelajaran olahraga. Pak Harno tidak keberatan jika ada siswa yang berutang karena tidak membawa uang. Dicatatnya utang para siswa yang suka jajan di warungnya. Nama siswa, jumlah utangnya dan janji tanggal pelunasannya tertulis lengkap dan rapi dalam buku catatannya. Subhanallah, orang yang sangat sederhana itu telah melaksanakan perintah Allah dalam hal utang-piutang.

Fakta yang sering kita saksikan, masih banyak di antara kita yang belum bisa menjalankan amanat utang-piutang itu dengan benar, yakni membayar utang tepat waktu. Menunda pembayaran utang di saat kita lapang dan bisa membayarnya adalah hal yang tidak bisa dibenarkan. Melunasi utang sesuai kesepakatan yang telah dibuat merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan seseorang yang berutang. Jika tidak dilaksanakan, akan timbul konflik antara kedua belah pihak yang mengadakan utang-piutang.

Jika seseorang berutang mengalami kesulitan untuk melunasi utang sesuai perjanjian yang dibuat dan meminta penangguhan untuk pelunasannya, maka pihak yang memberi pinjaman utang harus dengan penuh kerelaan memenuhinya. Kesepakatan baru antara kedua pihak dibuat dengan berbagai pertimbangan untuk kebaikan bersama. Bahkan, menyedekahkan sebagian atau semua utang adalah hal yang mulia. “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (QS Al-Baqarah [2]:280)

Pada saat melayat pada keluarga yang ditinggal wafat oleh anggotanya, biasanya ada pemberitahuan agar yang mempunyai urusan utang-piutang dengan orang yang wafat agar menghubungi ahli waris. Sehingga, utang-piutang bisa diselesaikan bersama ahli waris. Sesuai syariat, jika seseorang wafat dan meninggalkan utang, maka ahli waris berkewajiban untuk melunasinya. ''Sesungguhnya ruh seorang mukmin ditangguhkan (dari hisabnya) sampai utangnya dibayar. '' (HR Tirmidzi).

====

2. Orang yang tidak melakukan shalat Subuh: Dijauhkan cahaya wajah yang bersinar

Tidak melakukan shalat Dhuhur: Tidak diberi berkah dalam rezekinya

Tidak melakukan shalat Ashar: Dijauhkan dari kesehatan / kekuatan

Tidak melakukan shalat Maghrib: Tidak diberi santunan oleh anak2nya

Tidak melakukan shalat Isya: Dijauhkan kedamaian dalam tidurnya.

====

3. Syukur Saat Sehat, Sabar Saat Sakit

Oleh Sigit Indriyono

Terdengar alarm tanda waktu pulang kerja. Aku segera merapikan tumpukan dokumen di meja kerja, mengunci laci meja dan mematikan komputer. Kemudian menuju mesin absensi yang selalu setia melakukan identifikasi sidik jari tangan saat masuk kerja dan pulang kerja. Sore itu, sebelum pulang ke rumah aku akan mampir ke sebuah rumah sakit untuk menjenguk seorang tetangga dekat rumah yang menjalani rawat inap. Beberapa menit sebelum jam kerja berakhir, aku sempat mengirim sms untuk isteriku, memberitahukan bahwa kepulanganku ke rumah agak terlambat karena menjenguk tetanggaku itu.

Allah SWT memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada tetangga, sesuai firman-Nya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. " (QS An Nisaa' [4]: 36 ). Beberapa hadis Rasulullah SAW juga mengingatkan kita untuk menghormati tetangga, tidak menyakiti tetangga dan memenuhi hak tetangga. Salah satu hak tetangga yang harus dipenuhi adalah menjenguknya jika sakit.

Setiba di lobby ruang rawat inap yang sangat bersih dan nyaman, aku menanyakan lokasi ruang rawat inap tetanggaku kepada seorang petugas medis yang bertugas. Ia menjawab dengan ramah dan menunjukkan lokasi ruang rawat inap yang kumaksud. Rumah sakit yang bersih dan nyaman disertai keramah tamahan dokter, petugas medis, petugas kebersihan atau petugas lain merupakan harapan setiap pasien yang sedang berobat. Hal ini akan membantu proses penyembuhan penyakit atas izin-Nya.

“ Ada dua nikmat yang banyak orang lalai mensyukurinya yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu” (HR Bukhari). Nikmat sehat merupakan karunia dari Allah SWT, dan sering dianggap sebagai suatu hal yang biasa saja, sehingga kita lalai untuk bersyukur kepada-Nya. Biasanya, kesadaran akan besarnya nikmat sehat baru timbul pada saat kita mengalami sakit. Pada saat terbaring sakit, betapa lemah dan tidak berdayanya kita. Dalam kondisi seperti, kita akan mengalami kesulitan untuk melakukan berbagai aktivitas dengan baik, termasuk melakukan ibadah wajib seperti sholat lima waktu. Namun, Allah SWT memberikan keringanan-keringanan saat kita mengalami sakit. Jika tidak bisa berdiri karena kondisi badan lemah ketika sakit, kita boleh sholat sambil duduk. Begitu juga dengan puasa wajib di bulan Ramadhan, jika sakit, kita diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Dengan konsekuensi mengganti puasa pada hari yang lain. Allah SWT menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran bagi hamba-Nya dalam beribadah.

Allah berfirman: “ Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu “ (QS Al-Baqarah [2]: 168). Ayat di atas merupakan peringatan dari Allah SWT yang harus kita perhatikan. Makan makanan yang halal dan baik sesuai kebutuhan tubuh. Tidak berlebihan. Banyak penyakit yang diakibatkan oleh faktor makanan. Puasa wajib di bulan Ramadhan dan puasa sunnah yang dilakukan secara rutin akan memberi manfaat yang banyak terhadap kesehatan tubuh. Para ahli kesehatan telah melakukan penelitian terkait dengan puasa dan bisa membuktikannya secara ilmiah kedokteran.

Melakukan olahraga secara teratur adalah cara untuk menjaga kesehatan diri kita. Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita beberapa jenis olahraga. Beliau sering melakukan beberapa jenis olahraga, yaitu berenang, lari, gulat, panahan, anggar dan pacuan kuda (HR Baihaqi, Hakim, Abu Dawud dan Bukhari). Jangan memaksakan diri kita untuk berolahraga di luar kemampuan. Bagaimanapun juga, tubuh memerlukan istirahat dengan tidur yang cukup dan teratur.

Di samping itu, memelihara kebersihan lingkungan merupakan amanah dan tanggung jawab yang harus kita laksanakan secara konsisten. Banyak penyakit yang ditimbulkan oleh lingkungan yang tidak kondusif ditinjau dari aspek kesehatan. Sampah yang tidak tertangani dengan baik, saluran air pembuangan yang tidak lancar mengalir, ventilasi dan pencahayaan matahari yang kurang dalam rumah merupakan contoh penyebab munculnya berbagai penyakit. Hewan peliharaan dan kandangnya juga memerlukan penanganan kebersihan secara rutin.

Dan apabila aku sakit, Dia -lah yang menyembuhkan aku” (QS Asy Syu’araa’ [26]: 80). Jika Allah SWT memberikan ujian berupa sakit, ikhtiar harus dilakukan dengan berobat kepada yang ahli dalam bidang pengobatan melalui cara pengobatan yang sesuai dengan syariat. Tentu diisertai do’a mohon kesembuhan kepada-Nya. Kita harus bersabar dan menyadari bahwa sakit yang kita alami adalah kehendak-Nya.

Bisa jadi sakit yang dialami sebagai kafarat atau penghapus dosa dan kesalahan kita. ''Tidaklah menimpa seorang mukmin satu kepayahan pun, tidak pula sakit yang terus-menerus, tidak pula kecemasan, kesedihan, gangguan, dan tidak pula kesusahan sampai-sampai duri yang menusuknya, kecuali dengan semua itu Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. '' (HR Bukhari dan Muslim).


4 komentar:

Yolla Elwyn said...

Bisa nggak ya, ngikutin semuanya..:) Jiayou...:))

an diana said...

yolla yaaa...pelan2 dansatu persatu mbak..kita juga gak bisa langsung (meski gak mungkin) sempurna kan? ;)

Um Ibrahim said...

Boleh juga neh renungan jumatnya, thank's for sharing:)

an diana said...

um ibrahim sama2 ya ;) senang bisa berbagi